Rabu, 12 Maret 2014

I'm Back Only Back

Hai, apa kabar dunia blogger? Udah lama gue gak ngeposting lebih tepatnya menghilang karena sesuatu hal yang ada sangkut pautnya dengan sesuatu. Gue ngeposting cuman iseng, catatat cuman iseng doang. Cuma mau ngabisin waktu selagi nunggu upgradean iOS gue kelar dan sekarang asal lo tahu udah jam setengah 3 pagi dan gue belom tidur. Intinya sekarang gue lagi begadang, what the hell. Toh, gak masalah sih sebenernya besok juga gue libur jadi no problemlah yah.

Mengenai blogger, beberapa postingnya udah gue hapus. Gue ngaku kalo saat itu gue binggung mau cerita sama siapa dan ujungnya gue cerita diblogger, anggep aja kemaren dapet hadiah dari gue gara-gara gue curhat deh itu. Sekarang hidup gue fine-fine aja malah lebih baik dari dulu. Gue udah mau gede udah mau 17 tahun udah mau dapet KTP sama SIM lebih tepatnya. Gue juga udah banyak dapet pengalaman dan pelajaran selama gue ngilang di blogger mungkin udah 2 tahunan yah? Hidup gue santai setenang air, hidup gue makin hari makin autis gak tahu guenya salah atau lingkungan gue rada salah (?) tapi toh gue nyaman-nyaman aja gak ada masalah sama sakali yegaaaakkkk HAHAHA. 

Terus gue mau ngomong apa lagi yah? Gue bingung nih, gue takut salah ngomong dan gue takut dibully, yaudah deh gue pamit mundur lagi yah. Gue ada kok didunia, tapi didunia maya gue hanya muncur dibeberapa media aja. Bye, pamit mundur lagi yah. See you di next blogger selajutnya kalo gue ngepost. Doain gue yak

Zela

Kamis, 03 Mei 2012

Story Of Life (cerpen)


Story of Life

>>> 

                “Maaf bu, setelah menjalani tahap-tahap pemeriksaan. Sudah saya duga, anak ibu ini mempunyai kanker ganas di bagian organ dalamnya” ucap sang dokter menutup amplop. Bu Tasya menangis tersedu-sedu sedangkan suaminya menenangi diri istrinya
                “Berapa lama dok, umur saya?” Tanya Oik berusaha tegar
                “Saya gak tahu nak umur kamu bertahan berapa lama. Tapi kalau diperkirakan umurmu bertahan kurang lebih 3 bulan. Tapi… saya punya 2 pilihan buat ibu dan bapak”
                “Apa itu dok?” Tanya pak Arman
                “Anak ibu dan bapak bisa melaksanakan operasi untuk menggangkat kanker itu. Tapi, saya kurang setuju untuk melakukan operasi karena, tubuh Oik bisa menjadi cacat” jawab dokter Ivan. Oik terkejut. “Tapi itu terserah anda. Saya yakin anda berdua tidak menyetujuinya, makanya saran saya kedua adalah kemotrapi. Kemotrapi itu dilakukan selama 6kali. kemotrapi itu memakai obat-obat kimia, dan itu bisa membuat Oik bebas dari kanker ini. Bagaimana? Anda memilih apa?” Tanya dokter Ivan
                “Boleh saya pikir dulu dok? Saya butuh informasi lebih lanjut mengenai kemotrapi. Senin saya kembali lagi kesini dengan papa dan mama. Bolehkan dok?” celetuk Oik. Dokter Ivan menggangguk, akhirnya Oik dan orang tuanya beranjak dari sana dan pergi menuju rumahnya

>>> 

Oik terbangun dari lamunannya saat disenggol oleh Shilla
                “Lo kenapa Ik? tumben ngelamun?” Tanya Shilla melihat Oik melamun. Oik hanya menggeleng lemah
                “Ik, Oik!!!! Kak Cakka lagi dilapangan basket tuh! Lagi One In One sama kak Rio!” seru Sivia dari arah pintu kelas. oik bangkit dari temat duduknya lalu menuju lapangan dengan Shilla. saat disana Oik memilih menonton dari depan. Biasanya Oik menyemangati idolanya satu ini, walaupun ditolak mentah-mentah karna kata Cakka Oik terlalu over kepadanya, Oik mengganggapnya hanya angin lalu saja dan masih saja mengganggu sang idola. Tapi sejak Oik memasuki kehidupan seorang Cakka Nuraga, hari-harinya berubah deratis, yang biasanya dingin seperti e situ mencair Perlahan…
Sampai diakhir pertandingan pun tak ada satu katapun yang dilontarkan Oik sampai-sampai membuat semuanya heran dan bingung. Tanda akhir pertadingan pun berbunyi, saat itu juga Cakka menoleh kearah Oik yang menatapnya kosong, Cakka hanya memiringkan kepalanya, kenapa fansnya satu ini tidak kunjung berbicara maupun teriak, biasanya itu dia lebih heboh
Oik menghela nafas, saat Oik memegangi hidungnya, tiba-tiba darah mengalir dengan segar. Oik terkejut, Shilla hanya melihatnya terkejut “Oo..Ik..?” Oik menggeleng tanda ia tidak apa-apa, terlambat, ia tiba-tiba hilang keseimbangan. Cakka yang mengawasi Oik dari lapangan itu langsung belari kencang menuju Oik sebelum kepalanya membentur tanah, dan yap! Cakka langsung memanggangi badan Oik kala Oik sudah menutup matanya

CEMAS

Itu kata yang terlintas dipikiran Cakka, tanpa ba-bi-bu Cakka langsung menggedong Oik menuju UKS. Sontak seluruh siswa-siswi yang berada disana melihatnya, ada pula mengikuti Cakka ke UKS.

>>> 

Oik membuka matanya, ia melihat sekeliling. Infus? Bearti aku dirumah sakit? Batin Oik. Oik masih memandang sekeliling. Cakka?
                “C… Cak…. Kka..?” ucap oik lirih. Cakka yang menggelamkan kepalanya kasur terbangun
                “Oik?”
                “Kok.. Kamu..Di..Sini?” Tanya Oik
                “Aku nunggu kamu dari tadi, orang tua sama kakak kamu lagi dijalan. Jadi aku nunggu kamu sampe sadar. Kamu tadi pingsan disekolah dengan mimisan. Kamu kenapa Ik?” Tanya Cakka tanpa embel-embel ‘Lo-Gue’
                “Makasih Kka udah nungguin aku disini” jawab Oik tersenyum. “Aku gak sakit apa-apa kok, Cuma kurang istirahat aja, but thanks udah gak pake ‘Lo-Gue’ lagi Kka. Makasih hari ini udah buat aku seneng” sambung Oik dengan tulus, tak terasa air matanya mengalir. Cakka memandang Oik dengan senyuman khasnya lalu menghapus airmata Oik dan mengelus pipinya
                “Apapun aku lakukan buat fans nomor 1 aku ini” jawab Cakka ketawa kecil. Oik hanya senyum

Pintu kamar Oik terbuka dan muncullah 3 orang –Pak Arman, Bu Tasya, dan Dayat-. Bu Tasya langsung menghampir Oik, Cakka langsung menggeser posisinya kebelakang berjajaran dengan Dayat
                “Ik, hari ini papa akan bilang kedokter Ivan, kalo kita nyetuinya. Papa gak mau kamu nanggung sakit ini terlalu lama, apapun terjadi papa, mama, sama kakakmu akan nyembuhin penyakit kamu. Walaupun uang papa dan mama habis, kami ikhlas demi kamu sayang” kata pak Arman. Air mata Oik jatuh kembali
                “Terima kasih pa, ma” jawab Oik. Cakka memandang mereka bingung. Dayat melihat Cakka bingung akhirnya membisiknya sesuatu
                “Gue harap kalo lo denger ini lo gak boleh terkejut dan semacamnya” bisik Dayat Cakka menggangguk. “Lo pasti bingung Oik sakit apa, Oik sakit kanker. Kata dokter umurnya hanya bertahan kurang lebih 3 bulan. Kecuali dia ikut kemotrapi, kemungkinan ia bisa bertahan lebih dari tiga bulan. Dan gue mohon sama lo, lo harus ada disisi Oik selamanya hanya lo yang bisa Kka, hanya lo yang bisa bikin Oik senyum, hanya lo yang bisa bikin Oik ketawa, hanya lo. gue mengharap ini sebesar-besarnya. Oik satu-satunya adik gue. gue mohon Kka”
                “Gue terima kak, gue akan selalu disamping Oik. Gue akan ngebahagiain hidup dia. gue baru tahu itu kak, gue salah… Dulu gue suka banget gak ngerespon dia. sekarang biar gue yang balas kebaikan dia sama gue kak” bisik Cakka menangis

>>> 

Sejak hari itu Cakka bertekad akan menjaga Oik. Hari ini, Cakka mengunjungi Oik dirumah sakit sehabis pulang sekolah
                “Hey” sapa Cakka,Oik menoleh
                “Eh kak Cakka. Kok kesini?” Tanya Oik
                “Gak boleh?” ucap Cakka duduk disamping Oik
                “Eh boleh kok boleh! Siapa yang larang? Gaada kan”
                “Itu kamu… tadi itu apa?”
                “Cuma nanya!” jawab Oik tegas
                “Eh ini buat kamu” cakka memberikan bunga mawar yang ia simpan dibelakang tubuhnya. Oik menangis terharu
                “Ya ampun kak, ada angin apa kakak ngasih bunga buat aku? Ya ampun makasih kak”
                “Kan udah gue bilang, apapun yang aku lakukan buat fans nomor 1 ku ini. Right?” Tanya Cakka tersenyum oik menggangguk

>>> 

Oik menjalanin kemotrapi selama 6 kali ditemani oleh Cakka. Selama itu Oik harus bisa melawan penyakitnya itu. Dan setiap hari Oik rajin menulis puisi maupun diarynya

Sejak penyakit itu Oik memutuskan untuk berhenti sekolah. Orang tuanya tidak setuju
                “Pa! alasan oik berhenti itu Oik gak mau teman-teman yang lain tahu. cukup Shilla sama kak Cakka aja pa, cukup mereka” kata Oik menangis. Maklum oik tergolong anak yang pintar, kesayangan guru dan sering mengikuti olympiade. Yah tapi walaupun begitu ia tetap menggagumi seorang Cakka Kawekas Nuraga
                “Oik”
                “Please pa, kita gak tahu kapan oik mati. Kita gak tahu kalo kanker oik kembali. Kita gak tahu pa. oik yakin ini keputusan yang dibuat oleh yang diatas pa. oik tenang kalo banyak yang gak tahu penyakit ini. Cukup kalian yang khawatir cukup kalian. Cukup kalian yang kehilangan oik, oik gak mau banyak orang yang kehilangan Oik pa”

Sejak kejadiaan itu, pak arman menuruti kata-kata oik dan sejak itu pula ia berhenti sekolah dan meneruskan pelajarannya dirumah sakit…
Tapi tanpa Oik sadari, pak Arman tidak memberhentikan Oik. Dia bilang kepada gurunya Oik ‘cuti’ sebentar

>>> 

Hari ini tepat hari terkahir Oik untuk melakukan kemotrapi. Oik tersenyum senang karena semuanya telah berakhir…
Berakhir? Yap, berakhir dari segalanya. Berakhir dari penyakit yang membuatnya menderita selama 3 bulan ini. Menderita rambutnya tidak ada lagi. Sangat menderita…
Oik hanya berharap semoga kankernya ini tidak kembali untuk selamanya…
Selamanya…
Tanpa ia tahu apa yang terjadi dihari berikutnya…

>>> 

Cakka memandang tanah merah ini dengan pilu, tak sanggup ia melihat semua ini. Ia menyenderkan kepalanya di pundak Shilla. memandang rumah terakhir dalam hidup Oik…
Mengecewakan…
Ia merutuk dirinya sendiri…
Kenapa...
Kenapa….
Dan kenapa kau menggambilnya saat aku mulai mencintainya?
Kenapa tidak dari dulu?

Cakka terduduk lemas didepan makam Oik sendirian. Semuanya sudah pulang termasuk Shilla. tadinya Shilla mamaksanya untuk menungu, dan Cakka menolak dengan bentakkan
Cakka menatap makam Oik dengan kesedihan yang tak bisa diungkap
                “Ik… kenapa kamu tinggalin aku?” Tanya Cakka, air matanya mengalir tanpa disadarinya
                “Kamu udah janji untuk sembuh Ik. kenapa kemotrapi akhir itu tidak membuahi hasil? Utnuk apa perjuangan kamu selama ini! Kenapa ini terjadi Oik? Jawab aku! Kenapa! Kenapa! Kenapa!” teriak Cakka memukul tanah

Tes, tes, tes, hujan membasahi seluruh kota Jakarta ini. Seolah tahu perasaan Cakka yang amat terdalam….
                “Heh! Hujan sialan! Kenapa lo ngejek gue sih! Kalo lo tahu gue sedih kenapa lo hujan sederas ini! Lo mau liat gue sengsara? Lo mau buat gue kehilangan senyuman gue? itu mau lo? itu?” teriak Cakka
                “Gue gak bisa! Gue gak bisa! Gue sayang Oik! Gue sayang! Gue… sayang… dia” ucap Cakka lirih
Pandangan Cakka tiba-tiba menjadi hitam…

>>> 

Cakka berjalan ditempat yang bewarna putih ini. Ia melihat sosok Oik menghampirinya dengan baju dres putih. Cakk memeluk Oik sangat erat
                “Ik? kamu hidup lagi?” Tanya Cakka saat memeluknya. Oik melepas pelukkannya
                “Enggak Cakka. Sekarang kita udah beda alam” jawab Oik tersenyum miris
                “Kamu bakal ninggalin aku? Selamanya?” Tanya Cakkam air matanya turun kembali. Oik menggangguk
                “Aku sayang kamu Oik! Jangan tinggalin aku!” seru Cakka sudah tak karuan
                “Gak bisa Cakka! Kalo pun bisa aku dari tadi pulang kesana! Ini udah takdir Kka, jalan yang dipilih-Nya untu kita”
                “Aku kangen candaan lo Ik, aku kangen saat lo kasih semangat sama aku, aku kangen saat kamu datang kekelas aku bawa nasi bekal buatan oleh yang pertama kalinya”
                “Aku kangen kamu lebih Kka”
                “Kembali yuk sama aku?  ayok sini…” lirih Cakka
                “Gak bisa kka, gak bisa” jawab Oik mundur
                “Ayo kembali sama aku.. aku butuh kamu…”

>>> 

Cakka terbangun dilihat sekeliling. Kamar cewek?
                “Mulai kapan lo gak makan Cakka?” Tanya dayat. Cakka menoleh
                “Saat Oik koma sampai sekarang kak” jawab Cakka datar
                “Cakka! Lo udah 4 hari gak makan! Lo nekat banget sih sampe pingsan di kuburan. Kalo gue gak ngecek lo disana, lo udah mati!” seru dayat
                “Mati? Bagus dong kak, gue kan bisa nyusul oik disana” kata Cakka dengn tatapan kosong. Satu tamparan melayang dipipi Cakka
                “LO BEGO ATO BLOON SIH! LO GILA! LO DISURUH OIK HIDUP UNTUK GANTIIN DIA! BUKAN KAYAK INI CARANYA BEGO!” bentak Shilla menangis. Cakka hanya diam saja
                “Ini punya Oik. Lo baca sendiri tulisaannya!” seru Shilla melempar buku diary milik Oik. Setelah itu Shilla digeret oleh dayat untuk keluar

>>> 

19 Juli 2010
Lo tahu gak? Gue ketemu sama cowok ganteng pake banget. Tapi gue gak tahu tu namanya siapa, huhuhu. Kasihan yah gue
----              
1 Agustus 2010
Sekian lama gue cari tahu nama tuh cowok siapa sama shilla. namanya itu CAKKA. Panjangannya CAKKA KAWEKAS NURAGA. Tanggal lahirnya itu 18 agustus. H-17 dong yah? enaknya kasih kado apa yah sama dia hmm
----
18 Agustus 2010
Hey hari ini kak Cakka ulang tahun loh, tahu gak gue beli dia apa? sepatu nike air Jordan, bola basket, sama kemeja hitam putih. Gak tahu kenapa gue kepikiran aja sama benda tersebut dan langsung aja beli. Dan ultahnya kak Cakka gak dirayin yah kecewakan aku. Tapi aku punya surprise dan surprise itu berhasil! Dengan pengorbanan yang besar aku datang kerumahnya sama sahabatku dan sahabat kak cakka, dan kebetulan sahabat kak cakka itu dekat dengan aku. Dan jam 9malam kita udah stand by dan minta izin sama ortunya. Danjam setenga 12 kita suruh Cakka keluar dan langsung kasih surprise. Tahu gak? Kak cakka seneng bangeeeeeetttt!!! Aaa makin lovelove sama kak cakkaaaaaa
KAK CAKKAAAAA!!! I LOVE YOUU!!! ITU PENGORBANAN PALING SPECIAL DALAM HIDUP AKU. I ALWAYS LOVE YOU KAK!!!!!!!!
---- (skip)
6 Agustus 2011
Hari ini aku divonis oleh dokter Ivan mengidap penyakit kanker. Dan umurnya hanya bertahan kurang lebih 3bulan. Gue sabar banget nerima kenyataan ini. Terlalu sulit :”)
----
7 Agustus 2011
Gue pingsan dan gue mimisan. Lo tahu yang ngebawain gue keRS siapa? Kak Cakka dong yaaah. Gak nyangka banget kak Cakka bisa ngebawa gue ke RS. Dan kak cakka juga ngapusi air mata gue, dan ngelus pipi akuu. Aaaa TANGAL 7 AGUSTUS EMANG HARI GUE BANGET ITUUU! ME LOVE YAAAHH 7 AGUSTUSS
---- (skip)
25 November 2011
Yeyeyee lalalalaaa. Tahu gak hari ini kemotrapi gue abisss, Alhamdulillah yah sesuatu bangett, akhirnya gue terlepas juga dengan obat-obatan itu. Kak cakka juga disamping gue terus, bewarna hari hariku, lovelovelove <3
---- (skip)
25 Desember 2012
Makasih banget yah udah bikin kanker ini balik lagi. Aku sabar terus kok, malah syukuri hidup ini. Aku sudah, karena itu udah buat aku bahagia. Dan artinya aku gak bisa kemo dan menunggu beberapa hari lagi….
---- (skip)
1 january 2012
HAPPY NEW YEAR!! Tepat tanggal satu January dua ribu dua belas jam duapuluh empat nolnol dan bunyi kembang api. Kak cakka nembak aku:””””” akhirnya perjuangan cintaku gak sia-sia selama ini. Love you my brotha baby<3. I’m still always love you forever<3
---- (skip)
18 January 2012
Kak Cakka ngasih aku boneka luccuuuu banget dan sebuah bunga mawar. Dan dipikir-pikir kak cakka udah ngasih aku 5buah bonekaa aduhh jadi maluu banget. Dan bunga mawar? Gak kehitung! Setiap hari tanpa henti kak cakka ngirimi aku bunga mawarr. Makasih banget kak buat jasa-jasa kakak selama ini, amu sayang banget sama kakak selamanya
Dan kayaknya nafas aku udah gak sanggup lagi…
Semalam aku bermimpi seorang wanita cantik banget ngampiri aku. Dan dibilang waktuku tinggal dikit dan aku akan meninggal saat hari lahirku? Yang benar saja. Aku menolak itu. Aku gak bisa melewati ultahku yang ketujuh belas itu.. hari yang kutunggu akan mejadi nasip terakhirku?
Mari kita tunggu itu…

>>> 

Cakka meneteskan air matanya kembali. Menginggat saat oik diakhir-akhir perjuangan tanggal 20 january 2012
                “Kka, aku bahagia sekali. Bahagia ketemu kamu. Semuanya jadi kenyataan. Semuanya, makasih udah nemenin aku… jadi pendamping aku” ucap Oik lirih
                “Jangan bilang gitu Ik. aku sayang kamu. I love you… happy birthday my lil baby” jawab Cakka tersenyum dan memberi bunga mawar kepada Oik
                “Love you too my brotha baby. And… Good… Bye…”

Deg…
Aku gak mau itu terulang lagi! Hapus ini hapus hapussss!!!!!!!!
Cakka mengacak rambutnya, ia frustasi.
                “Kamu tahu? aku sayang kamu sejak mos waktu itu. Aku hanya pura-pura gak tahu, aku sayang kamu setulus hatiku. Aku gak nyesel, aku justru bahagia kenal sama kamu, dekat sama kamu, dan mendampingi kamu terus. Aku bahagia. Semoga kamu tenang disana Oik. Love you my lil baby” lirih Cakka memejamkan matanya
                “Aku juga sayang kamu. Love u too my brotha baby” bisik Oik saat Cakka mulai tertidur

-THE END-

Rabu, 07 Maret 2012

First Love Stories (Cerpen)


Heeeey epibadeeeh:D. saya kembali lagi dari sekian lamanya u.u
dan sekarang saya post sebuah cerpen
cekidot
>>>


First Love Stories

>>> 

“Aku cukup menyukaimu – Cakka Kawekas Nuraga”

Kata-kata itu yang ditulis oleh Cakka dibuku kelulusan SMPku

>>> 

                “…Halo?...” ucap seseorang di telpon
                “…Hallo. Ah, Alvin…” jawabku senyum
                “…Lama tidak jumpa, apa kabarmu?...”
                “…Baik. Kamu gimana vin?...”
                “…Baik juga…”
                “…Oh iya, ada perlu apa…”
                “…Begini Ik, kemarin aku dapat kabar dari pak Jo tentang reuni SMP kita dulu. Jadi karna waktu itu kelas kita yang terbaik, pak Jo pilih kelas kita jadi panitianya. Kamu mau ikut?...”
                “…Mau kok Vin, janjian dimana?…”
                “…Di tempat biasa Ik, masih inget kan? Jam 4 sore yah? Sekalian liat matahari tenggelam, kan disana bagus suasanannya…”
                “…Oke, kapan?...”
                “…Besok, jangan lupa datang…”
                “…Iya sipiit…” jawabku terkekeh
                “…Wo dasar tembem…”
                “…Dasar sipiit, udah dulu yah aku lagi les nih…”
                “…Bye…”

Kututup BlackBerry ku, Alvin sahabatku saat SMP. Begitu kangennya dengan masa-masa itu. Sekarang aku sudah beranjak kelas 3 SMA, otomatis sebentar lagi akan tamat… Cakka… Apa aku bisa ketemu kamu nanti

>>> 

Aku berjalan sambil membawa 2 bungkus kresek yang isinya kembang api dan makanan, tempat tongkronganku terletak dibelakang sekolahku dulu, SMP negri 2. Sambil melihat-lihat keadaan sekolah jadi ingat saat aku sekolah disini. Aah, sudah begitu lama yah. aku terkekeh geli saat menginggat kejadian-kejadian begitu.
Setelah berapa jam berjalan akhirnya aku sampai disana, yap masih jam3 lewat. Kecepataan? Memang kusengaja supaya bisa melihat keadaan disana. Yah aku rasa disana ada juga yang datang walaupun tidak tahu siapa
                “Ah, itu dia datang” ucap Shilla saat aku datang
                “Aaaaaa OIK!” seru Sivia
                “Hei” kata Gabriel
                “Lama tak jumpa!” ucapku menghampiri semuanya
                “Makasih sudah mau datang Ik. Kudengar kamu lagi sibuk banget yah” Tanya Sivia
                “Iya, tapi besok aku libur les kok, jadi no problem” jawabku tersenyum sambil memberi kresek dengan Gabriel
                “Kamu mau masuk Universitas Indonesia yah? Asik dong” kata Gabriel
                “Iya, Oik pintar sih” jawab Shilla. aku hanya tersenyum mendengarkannya
                “Umm, si Ca…” ucapanku terpotong saat ada yang menepuk bahuku
                “Hey Oik?” Tanya Alvin
                “Ah, Alvin” jawabku kaget. tapi setelah itu Alvin menggangkat telponnya
                “Iya bawel, dia ada disini. Gue tunggu lo Kka” kata Alvin samar-samar

Deg, Cakka?

=FLASHBACK:On=
Aku menatap seseorang yang ada diatas gedung dengan khawatir

                “Apa?” Tanya seseorang

                “Kamu dipanggil guru Kka”

                “Kalau mereka yang ada urusan, kenapa kamu yang disuruh kesini?”

                “Yeh, mana aku tahu lah. Kamu berantem lagi yah?”

                “Bodo, kenapa sih setiap hari kamu menegurku?” tanyanya saat menuruni tangga

                “Aku juga gak mau! Tapi ini tugas ku sebagai ketua kelas!” seru ku kasar saat membalikkan badan dan mulai menuruni anak tangga dan menuju kelas.



Dia adalah Cakka Kawekas Nuraga, rambutnya segaja dipirangkan, dan dia adalah anak pembuat masalah dikelas

                “Baru masuk sekolah udah babak belur” batinku saat melihat Cakka melewati koridor

                “Mukamu kenapa?” Tanya Gabriel ketawa

                “Biasa” jawabnya dengan cenggiran khasnya



Tapi… Banyak teman yang menunggunya, sebetulnya aku iri padanya. Satu-satunya kesematanku berhubungan dengannya adalah saat aku menengurnya

                “Eh si Cakka keterima di SMA Patra Mandiri” kata Ify

                “Masa sih?”

                “Cakkaaa, tulis pesan kamu dong dibuku kelulusan akuu” ucap Shilla merenggek

                “Ah aku juga” sambung Ify



Aku hanya melihatnya dari jauh saat aku berjalan kearah kursiku, Cakka memanggilku

                “Kamu mau bukumu ditulis juga?” tanyanya

                “Eh? Gak usah!”tolak kulanggsung

                “Kamu sama sekali gak manis deh. Inikan kelulusan” jawabnya dengan muka bete. Aku pun memberikan buku kelulusan padanya dengan muka berteguk 4

                “Kau masuk SMA Global Mandiri yah?” tanyanya yang duduk diatas meja sambil melihat isi buku kelulusa

                “Iya” ucapku kesal. “Tapi kamu masuk SMA Patra Mandiri. Dunia memang tidak adil!” seru ku ketus, padahal aku tahu dia belajar mati-matian untuk ujian masuk, batinku

                “Ah. tulis bukuku juga dong” katanya memberi buku kelulusannya

                “Eh?” jawabku bengong, disaat terakhir ini aku ingin jujur…, batiku. Aku mulai menulis bukunya. Setelah itu aku memberinya kembali. Ia membaca tulisanku
“Tetap sehat yah. jadilah dewasa dimasa SMA :) – Oik Cahya Ramadlani”
                “Bawel ah” guman Cakka, tukan, batinku

                “Nih” katanya memberikan buku ku, saat aku mau membacanya ia pun pergi menuju pintu “Sudah yah”



Mataku terbelakak membaca tulisan itu…

                “Cakka” ucapku menatap punggung cakka
“Aku cukup menyukaimu – Cakka Kawekas Nuraga”
=FLASHBACK:Off=

Tak kusangka dia meninggalkan pesan itu…

                “Cakka sudah menuju kesini” kata Alvin, jantungku berdegup kencang
                “Oh ya? Aku sempat ketemu sama dia didepan perpustakaan Jakarta.. dia rajin belajar yah sekarang” Tanya Sivia
                “Iya, aku sekelas dengannya” jawab Alvin
                “Siapa yang percaya, si pirang tukang berantem itu malah masuk SMA favorite” sambung Gabriel

Aduh, kok aku gugup yah? apa dia tidak pernah berubah? Aku menepuk pipiku
                “Itu Cakka kan?”
                “Cakka sini!”
                “Hei”

Benar-benar datang! Aku… Tidak bisa bergeraak. Pelan-pelan aku mengembalikkan kepalaku. Deg! Mataku dan matanya bertatap sebentar… eh eh eh, rambutnya hitam… beda dengan Cakka yang ada diingatankuu.. Tapi dia memang Cakka… Aku mamandang Cakka, kulihat Cakka sedang berbicara dengan Sivia setelah itu ia jongkok sambil memengan kembang api
                “Ada yang punya korek?” tanyanya
                “Nih” kata Gabriel
                “Sankyu”

Sepertinya ada yang beda? Mungkin rambutnya jadi hitam… Dan dia jadi makin tinggi… Cakka jadi sekeren ini?
                “Lama tak jumpa” sapa Cakka
                “Eh iya” jawabku gugup
                “Kau… potong rambut?” tanyanya mematikan kembang api
                “I… Iya, cakka… rambutmu jadi hitam” kataku
                “Iya”
                “Co… Cocok juga, Kok…” ucapanku terputus
                “Hei! Kita ke SMP yuk!” seru Shilla menggandeng tangan Cakka
                “Kka, jalan kaki aja dari sini” sambung Shilla
                “Iya”
                “Oh iya, Ik kamu dipanggil Alvin tuh” ucap Sivia
                “Eh, iya” jawabku
                “Hei, waktu SMP kalian berdua sering digosipin loh. Sebetulnya ada apa sih?” Tanya Shilla
                “Hah?”
                “Sebetulnya kalian jadian yah? kalian serasi loh”
                “Apa katamu” ucapku memandang Badan Shilla dari belakang
                “Ayo, hari ini kita nostalgia!” seru Shilla memegang pundak Cakka

Aku menatap punggung itu dengan kesal, perasaanku campur aduk, Cakka, Shill, Sivia, Gabriel berjalan didepan. Aku dengan Alvin dibelakang,  aku hanya diam saja disana suara Shilla paling besar dan heboh. Aku melihat punggung mereka dengan seksama, tak ada yang beda disbanding waktu SMP , terasa begitu jauh…
                “Kamu kenapa Ik?” Tanya Alvin
                “Kau selalu melihat dari jauh” sambung Alvin. “Sesekali lihatlah dari dekat untuk memperluas wawasanu”
                “Eh?” kataku tak mengerti, apa maksudnya? Batinku
                “Cakka berubah yah? dibanding waktu SMP, dia jauh lebih tekun. Ini semua berkat Uci… Dia berubah total” ucap Alvin. “Kadang-kadang masih berantem, tapi kita kan bersama dia sejak kelas satu. Lagi pula masa SMA lebih menyenangkan dibanding SMP”

Dia berubah jadi orang seperti itu yah…
                “Kangen juga” ucap Cakka
                “Mau nyebur kekolam?” Tanya Gabriel
                “Asik juga nih”

Bertambah lagi si Cakka yang tak kukenal. Hey.. Jangan pergii. Jangan pergii! Aku langsung memegang baju Cakka daribelakang, ia langsung menoleh dan menatapku
                “Hen.. HENTIKAN! Nanti kau bikin ribut dan menyusahkan orang lain saja! Ternyata kau tak bisa jadi dewasa yah!” bentakku
                “Kau bawel” jawab Cakka dingin
                “Iya! Biarkan saja” sambung Shilla
                “Jangan dimarahi lagi dong” ucap Sivia
                “Hey! Apa yang kalian lakukan disini? Pegi sana!”
                “KABUR!”
                “Eh, tungguu”
                “Tunggu duluuu”
                “Maaaaaaaf Pak!”
                “Ayo Ik” kata Alvin menarik tanganku dan mengajak belari sampai ketepat tongkrongan kami tadi
                “Ya ampun!”
                “Payah banget!”
                “Gara-gara lo Kka”
                “Kok aku?”

“Kau Bawel” deg, aku mengatur nafas, lalu menepuk pipiku sendiri. Kata-katanya tadi seolah-oleh jarum bagiku…
                “Eh cola nya masih banyak nih”
                “Yuk minum”

Kenapa aku bersikap begitu didepan Cakka? Itu sebabnya aku selalu dibilang bawel. Aku… Tak tahan pada diriku sendiri. Aku pun langsung menggambil cola dan meminumnya. Aku tahu yang lain melihatku
                “Kamu gak papa ik?”
                “Gaaaaak”
                “Bagus! Minum lagi saja!”
                “Eh? Sudah kosong?” tanyaku agak pusing setelah minum itu telah habis
                “Piaaaa, colanyaa habisss” renggekku. Sivia langsung mengusap kepalaku
                “Buka yang baru saja yah?”
                “Ayo bukaaa”
                “Hei, jangan minum lagi Oik! Istirahatlah sebentar” ajak Alvin. Aku hanya bisa ikut saja, maklum kepalaku sudah pusing. Akhirnya alvin membawaku tak jauh dari yang lainnya
                “Mungkin kamu tak sadar” katanya
                “Apanya?”
                “Tapi sekali melihatmu aku langsung tahu” jawab Alvin melihatku dengan mata yang sayu
                “Berhentilah memaksa dirimu. Oke?” tanyanya menghelus kepalaku
                “Iya” ucapku diam

Tangan yang lembut. Ya, mungkin lebih baik… Begini…
Seseorang langsung memelukku. Siapa?

                “Eh?” ucap Alvin bengong
                “Eh?” ucapku saat orang itu menarik tanganku
                “Kau kebanyakan minum! Kenapa bengong sih?!” serunya. Aku menatap matanya… cakka?
                “Eh? Ah? uh” jawabku sambil menutup mulut. Aduh, aku jadi mual…
Cakka langsung menggedongku ketempat yang lebih lapang
                “Kkaa… tungguuuu” jeritku pelan
                “Ayo muntah! Kalo muntah nanti kau merasa lebih baik!” serunya menepuk punggungku
                “Enggakk. Gak bisa, aku takut. Jijik….” Jawabku menggigil takut
                “Bawel banget sih! Susah banget, Cuma bilang ‘Hoek’ aja susah!” katanya memaksa
                “Jangan bilang ‘Hoek’. Uh”

Akhirnya aku pun muntah juga. Selang berapa menit Cakka masih menungguku disini sambil memberi sebuah botol air putih. Aku hanya melirik dia saja
                “Maaf Kka” ucapku buka mulut
                “Kau bego! Kenapa ceroboh sekali sh? Biasanya kau gak begini!” kata Cakka marah

Apa yang aku lakukan? Aku tidak suka menyusahkan orang. Tapi, kenapa aku tidak bisa bersikap jujur menuruti perasaan? Padahal aku ingin akrab dengan mereka.  Air mataku jatuh mengalir menbasahi pipiku. Seakan-akan terlihat masa saat aku SMP. Padahal… Padahal…. Aku suka Cakka…
Cakka langsung memelukku. Ya saat ini memang aku tidak melihat wajahnya. Didalam pelukkannya air mataku tetap mengalir
                “Kau beda dari biasanya! Lebih… manis! Biasanya kau sangat tegar!” sahutnya melepas pelukkan itu. Aku menatapnya masih mengeluarkan air mata
                “Jangan perlihatkan sikap seperti ini… Didepan siapapun!” serunya memegang pundakku
                “Tapi…” ucapku menatap Cakka. “Aku ingin berada disisimu cakka. Sebetulnya aku ingin tersenyum disamping kamu Kka” sambungku, kulihat Cakka menatapku sangat dalam
                “Maaf. Aku nekad berkata seperti ini. Padahal aku tahu kamu sudah punya pacar” kataku menunduk
                “Pacar?” Tanya Cakka kaget
                “Kau memang punya pacarkan? Alvin bilang kamu berubah karena seseorang bernama Uci” ucapku sedih
                “Uci itu… Wali kelasku” jawab Cakka dengan muka datar
                “Ah?” aku bengong. Raut muka cakka yang datar itu berubah menjadi orang yang ketawa terbahak-bahak
                “Ya ampun! kau salah paham” kata Cakka ketawa
                “Tapi” aku hanya bisa menahan malu “Awas kau Alvin” batinku marah
                “Aku memang ingin berubah, tapi bukan karena wali kelas” katanya berdiri. Aku hanya memasang muka heran dan ikut berdiri
                “Karena orang yang kurindukan tidak ada di SMA” sambungnya melihat kearah langit
                “Orang yang kau rindukan?” tanyaku
                “Awalnya tiap kali bertemu aku, dia selalu bicara. Kukira dia orangnya bawel…..”

=FLASHBACK:On=
                “Cakka kamu ini bisa tidak, jangan berantem terus?” Tanya pak Duta. Aku hanya diam mendengarkan pak Duta bicara

                “Jangan cat rambutmu jadi pirang begitu!”

                “Ini catatannya pak” sahut Alvin meletakkan buku catatan di meja pak Duta

                “Hei, kalian juga harus menegur dia!” suruh pak Duta. Aku hanya melihat mereka bedua dengan tatapan ‘gak-usah-bantu-gue’

                “Ah” jawab Alvin yang seperti mengerti tatapan aku

                “Tapi pak praktis juga kok, kalau rambutnya itu pirang. Kan itu bisa membuatku tahu dimana dia berada” ucap Oik yang daritadi membetulkan letak buku-buku yang ia bawa dan Alvin. Ia berbicara sambil tersenyum. Deg, kenapa hatiku berdetak cepat?

                “Kamu malah membelanya Oik!” tegur Pak Duta



Kalau dicat pirang dia langsung masuk kedalam ruang  penglihatanku

                “Cakkaaaaaaaaaa! Ayo tugas piket” teriak Oik saat mencariku. Aku pun bersembunyi dibelakang pintu lab. Tak terdengar lagi suara Oik, bearti dia tidak ada didekat sini lagi dong. Aku mengehela nafas lega

                “Kau disini yah!” kejutnya dari belakang. Aku terkejut dan langsung menoleh kearahnya

                “Sudah kubilang jangan bolos piket!” seru Oik. Aku memasang muka sebal. Tapi berapa detik kemudian muak sebalku tergantikan dengan senyuman manisku sampai Oik bermuka heran

                “Apa? kenapa kamu tersenyum?” Tanya Oik
=FLASHBACK:Off=

                “Aku kabur karena ingin menarikmu. Tiba-tiba saja, semua terasa sangat menyenangkan. Tiap hari aku pergi kesekolah agar bisa bertemu denganmu. Memang konyol dan kekanakan… tapi itulah cinta pertamaku”  kata Cakka masih memandang langit yang berbintang. Aku hanya bisa menangis mendengar kata-katanya itu
                “Sampai sekarang aku masih suka kamu Cakka” jawabku tersenyum melihat dia
                “Iya. Aku juga masih suka kamu Oik” katanya senyum memegang tanganku

Sore hari yang panjang telat usai dan berganti malam yang penuh dengan bintang. Mulai sekarang, kami berdua memulai hari yang baru…

>>> 

-Cakka POV-

Aku berjalan dibawah rindang pohon. Daun warna kuning kembali berguguran. Melihat daun itu aku teringat saat kelas 3 SMP

=FLASHBACK:On=
                “Hei kalian! Bukannya piket malah main-main!” seru Oik melihat aku dan Gabriel yang sedang menghamburkan daun yang sudah dikumpulkam itu

                “Payah! Kayak anak kecil aja kalian!” ucap Oik menghentikan kami berdua. Gabriel langsung melarikan diri. Aku? Aku berada disamping oik dengan muka kesal

                “Dasar cerewet” gumanku

                “Apa katamu?” ucap Oik yang sudah mengempalkan tangannya

                “Eh, ada yang nyangkut” kata Oik menggambil daun kuning itu dari rambutku

                “Ah, warnanya sama dengan rambutmu. Tuh” sambungnya. Lalu ia mendekatkan daun kuning itu kerambutku
=FLASHBACK:Off=

                “Cakka” teriak Oik, aku menoleh kearah Oik
                “Maaf ya. Sudah lama menunggu?” Tanya Oik
                “Ah enggak juga kok” jawabku yang melihat muka Oik yang lagi senyum itu
                “Pemandangannya indah yah. taman sekolah kita dulu seperti ini juga kan?” tanyanya. Aku langsung memandangnya dengan senyum merekah, dia ingat! Dia ingat!
                “Hem? Kenapa kamu senang?” Tanya Oik dengan muka polosnya
                “Gak papa” jawabku dengan muka kesal. Dia gak ingat
                “Hah?” ucapnya heran “Eh tunggu dulu Kka. Ada daun kuning nih yang nyangkut” katanya menggambil daun itu diatas rambutku
Oik melihatkan daun kuning itu, aku langsung memasang senyum bahagia kearahnya lalu menggandeng tangannya
                “Lho? Kok langsung menggandeng tanganku?” tanyanya heran. Aku hanya tersenyum melihat muka Oik yang heran
                “Rahasia” jawabku nakal dengan ekpresi senang, oik yang melihatku begitu langsung tersenyum juga

>>>>>>>>>>>> 

THE END!

Sabtu, 22 Oktober 2011

Pertemuan Singkat (Cerpen)

semoga suka yah:) kalo jelek maaf:) 

Pertemuan Singkat

>>> 

Pertemuan Singkat…

Dan berjalan sangat cepat…

Ify berjalan kesebuah gubuk yang ada diarah taman kompleknya, ia sedang kehujanan. Ia hanya numpang untuk berteduh sebentar disana. Sampai disana Ify membersihkan wajahnya yang terkena air hujan
                “Kampret banget sih, tiba-tiba hujan” gerutunya
                “Untuk ada nih gubuk, kalo gak ada kan bisa basah-basahan” omelnya lagi

Ify masih saja ngomel-ngomel gak jelas, akhirnya pundaknya dicoel seseorang dan sontak Ify menoleh dengan tatapam heran
                “Ada apa?” tanyanya ketus karna moodnya lagi gak baik
                “Maaf mbak, bisa gak, gak usah ngomel-ngomel? Saya mau tidur mbak” jawab orang itu kalem

Tidak di sangka…

Aku langsung terhipnotis olehmu…

Deg! Jantung Ify berdetak cepat melihat orang itu, keringat dingin mengalir dipelipisnya. Berkali-kali ia menelan ludahnya, matanya pun tak berkedip dari tadi
                “Eh,… Maaf gak tahu, tadi lagi emosi sih” ucap Ify terbata-bata, orang itu hanya menggulum senyum yang manis
                “Gak papa kok. Btw, kenapa kamu marah?” tanyanya
                “Itu gara-gara hujan, jadinyakan baju gue basah” rengek Ify
                “Haha, gak papa kok, masih cantik” kata orang itu tersenyum. Pipi Ify merah merona
                “Hehe, makasih yah” jawab Ify tersenyum. Sesaat orang itu terdiam
                “Oh iya, nama kamu siapa?” Tanya orang itu
                “Alyssa Saufika Umari panggil aja Ify. Kalo lo?”
                “Mario Stevano Aditya Haling, panggil aja Rio”
                “Oh Rio yah, kelas berapa?”
                “Kelas 2 sma. Kalo kamu?”
                “Sama aja” ucap Ify ngengir
                “Eh, hujannya udah reda. Aku pulang yah” pamit Rio
                “Bay Rio” jawab Ify melambaikan tangannya

Ify senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Ia pun mengikutin jejak Rio pulang kerumah

>>> 

Ify makin sering kegubuk itu melihat Rio, emang Rio sering kesana, tapi Ify gak tahu alasannya. Suatu ketika Ify menanyakan hal itu dengan Rio
                “Eh Yo, boleh nanya?” Tanya Ify hati-hati. Rio kelihatan bingung lalu ia tersenyum
                “Boleh, mau Tanya apa Fy?”
                “Lo, kenapa sering ke sini? Apa ada kenangan lo sama seseorang?” Tanya Ify hati-hati. Sontak raut muka Rio sedih. Ia menatap atap gubuk itu
                “Alasan gue kesini adalah… Kalo gue kesini karna bisa nginget sama nyokap Fy” jawab Rio pilu
                “Eh Yo, gak usah diterusin” kata Ify gak enak hati
                “Gak papa kok Fy, lo juga harus tahu. Hmm, kalo gue kesini gue serasa deket sama nyokap”
                “Kenapa emangnya nyokap lo Yo?”
                “Nyokap meninggal karena Leukimia” kata Rio sedih
                “Ah? leukimia?” Tanya Ify kaget
                “Iya leukemia, terus mama juga meninggalnya digubuk ini Fy, makanya gue terasa deket dengan mama” kata Rio tesenyum
                “Yah udah, kan ada aku Yo” ceplos Ify
                “Eh?” Tanya Rio kaget. Ify langsung malu
                “Eh, tadi salah ngomong yo, serius” ucap Ify terbata-teba
                “Fy, kalo gue boleh jujur, gue suka sama elo” kata Rio lirih
                “Apa? Gue gak salah denger yo?” kaget Ify
                “Serius, lo mau jadi pacar gue?”
                “GUE MAU YO, MAU BANGET SURIUS DEH” teriak Ify gak jelas. Rio ngakak lihat ekspresi Ify seperti itu
                “Lo gila banget Fy, teriak-teriak kayak gitu” ucap Rio ketawa lepas. Ify hanya nyengir gak jelas, ia senang karena akhirnya Rio bisa ketawa lepas kayak gitu            

>>> 

Setidaknya kamu…

Sempat menjadi milikku…

                “Rio mana yah? Kok belum kelihatan?” guman Ify. Ia melihat Rio keluar dari mobil Avanza dengan dituntun oleh seorang cewek. Ify cemburu melihat adegan itu

                “Kamu jahat yo, jahat!” seru Ify. Ify tidak jadi pergi menuju gubuk itu melainkan pulang kerumah

>>> 

Sudah seminggu ini Ify tidak ada di gubuk itu. Rio terlihat cemas disana, ditemanin dengan seorang cewek
                “Yo, udah malam, pulang yuk, kayaknya temen kamu gak datang lagi” ucap wanita itu
                “Bentar kak, please sebentar lagi. Aku yakin Ify datang” jawab Rio lirih
                “Oke, bentar lagi. Kalo jam 7 masih gak ada kita pulang” sahut wanita itu

Rio masih ada disana dengan muka pucat. Wanita itu khawatir melihat Rio
                “Yo, udah jam 7. Ayok kita pulang, papa udah nelpon suruh kamu ke rumah sakit”
                “Iya kak” kata Rio lirih

>>> 

Meski pun tak lama hal itu…

Telah membuat ku bahagiaa…

Hujan telah menghuyur kota Jakarta, Ify sudah berada disana sejak pulang sekolah tadi. Ia tak tahan melihat Rio menduakannya. Akhirnya Rio datang dengan wanita yang dilihat Ify selama seminggu ini. Ify hanya diam melihat itu, ia pura-pura tidak tahu. Saat melihat Ify, Rio senang, ia pun menyuruh cewek itu pulang
                “Hay Fy, kemana saja kamu? Kok gak pernah kesini?” Tanya Rio
                “Gue sibuk” jawab  Ify singkat
                “Kamu kenap Fy?” Tanya Rio
                “Stop deh Yo! Aku tahu kamu selingkuh! Jadi gak usah baik-baik gitu!” bentak Ify, Rio terperanjat
                “Maksud kamu apa Fy?” Tanya Rio bingung
                “Seminggu ini aku memata-matain kamu Yo! Kamu selalu pergi dan pulang denga cewek! Seperti tadi, aku cemburu Yo!” seru Ify
                “Fy, please dengerin aku. Aku gak selingkuhin kamu” bantah Rio
                “Bohong! Stop Yo, sekarang gak usah perduliin aku. KITA PUTUS YO!” kata Ify menangis lalu keluar dari gubuk itu dengan basah mengguyur badannya. Rio menggejar Ify, tiba-tiba badannya seperti mati rasa, ia pun pingsan

>>>> 

Kau buat hidupku, tak bearti tanpa kamu…

Dan kini kau menghilang, aku langsung terhipnotis olehmu…

Sejak kejadian itu Ify dengan Rio tidak pernah kegubuk itu. Dan sekarang Ify menjadi galau…
Ify sering melewati gubuk itu untuk melihat Rio, tapi Rio tidak ada disana. Hey! Kemana dia? Mengapa ia menghilang? Dia bilang bahwa gubuk itu adalah kenangan denga nyokapnya! Kenapa ia tidak datang 2 minggu ini?

Ify menjadi risau. Ia tidak tahu dimana rumah Rio, satu-satunya jalan yaitu ketemu sama cewek yang sering bersama Rio. Tapi bagaimana bisa dia mencari wanita itu?

Ia tidak tahu dimana sekolah Rio, ia tidak tahu nomor hape Rio, salah satunya ia mencari nama Rio di FaceBook

                “Mario Stevano Aditya Haling” guman Rio saat mengetik nama Rio di bagian search di FaceBook
                “Eh ini PP nya mirip Rio” ucap Ify. Ia melihat wall dan photo di FB Rio

Ia melihat wall Rio dengan air yang mengalir dipipinya. Akhirnya ia tahu, wanita itu adalah sepupunya Rio, kak Sivia Azizah
Apa maksud wall dari teman-teman Rio, bahwa Rio telah meninggal? Ify buru-buru mencatat alamat rumah Rio dan langsung pergi kesana

>>> 
Dengan masalah besar kini hadapi…

Segitu saja perjuanganmu…

Untukku?

Deg, dada Ify bergemuruh cepat, badannya bergetar hebat. Rio meninggal? Ify terduduk lemas didepan pintu rumah Rio. Tiba-tiba seorang wanita menghampiri dirinya
                “Ify?” Tanya wanita itu. Ify menegakkan kepalanya lalu menggangguk
                “Boleh bicara sebentar?” Tanya wanita itu
                “Boleh” ucap Ify lemas

Wanita itu mengajak Ify ke taman belakang rumahnya
                “Aku Sivia, kakak sepupunya Rio yang kamu sangka sebagai selingkuhan Rio” kata Sivia to the poin. Ify diam mematung
                “Kenapa kamu tiba-tiba putusin Rio?!” Tanya Sivia dengan amarahnya yang tertahan
                “Aku cemburu” ucap Ify lirih
                “Kenapa? Gara-gara aku sering mengantar Rio?”
                “Ya! Kenapa Rio tidak bilang ke aku kalo kamu sepupunya? Malah ia memilih diam? Dan kenapa dia meninggal ini?!” ucap Ify emosi
                “Itu karna enggak mau bikin kamu khawatir!”
                “Maksud kamu?”
                “Rio meninggal gara-gara penyakit Leukimia turunan dari Mamanya”
                “Ah?”
                “Kamu gak percaya? Kamu tahu kenapa Rio sering ada di gubuk itu?”
                “Apa?”
                “Karna kamu adalah semangat HIDUP RIO! GARA-GARA KAMU RIO BISA BERTAHAN SAMPAI SINI! Tapi, gara-gara kamu mutusin Rio, keadaannya kembali koma” ucap Sivia menangis
                “AKU GAK TAHU!” seru Ify menangis
                “KALO RIO JUJUR SAMA AKU, AKU GAK BAKAL SEPERTI INI!” seru Ify
                “Terserah kamu. Ini dari Rio” kata Sivia memberikan surat dari Rio

--- Dear Alyssa Saufika Umari

Hay Fy:) maafin aku yah selama ini. Itu sepupu aku, kukira kamu tahu siapa itu… ternyata kamu sama sekali ga tahu. Fy maafin aku, mungkin saat aku kasih surat ini aku enggak ada didunia ini lagi.

Aku sayang kamu Fy, mungkin takdir udah nentuin kita kayak gini:’)

Aku punya penyakit Leukimia turunan dari mama:’). Aku tahu itu tidak lama dari kita jadian Fy, maafin aku Fy, kalo kamu gak maafin aku. Aku gak bisa tenang:’(. Maafin aku fy:’)

I love you:*


Aku nanti akan ada dimimpimu sayang:*



M.S.A.H---

Ify menangis terseduh. Rasanya ia ingin mengulang kejadian hari ia memutusin Rio. Tapi bagimana halnya? Kita tidak bisa mengulang hari itu. Memang, penyesalan datang di akhir-akhir

>>> 

                “Pertemuan singkat… Dan berjalan sangat cepat…” ucap Ify bersandung lemah

THE END