Heeeey epibadeeeh:D. saya kembali lagi dari sekian lamanya u.u
dan sekarang saya post sebuah cerpen
cekidot
>>>
First Love Stories
>>>
“Aku cukup menyukaimu – Cakka Kawekas Nuraga”
Kata-kata itu yang ditulis oleh Cakka dibuku kelulusan SMPku
>>>
“…Halo?...”
ucap seseorang di telpon
“…Hallo.
Ah, Alvin…” jawabku senyum
“…Lama
tidak jumpa, apa kabarmu?...”
“…Baik.
Kamu gimana vin?...”
“…Baik
juga…”
“…Oh
iya, ada perlu apa…”
“…Begini
Ik, kemarin aku dapat kabar dari pak Jo tentang reuni SMP kita dulu. Jadi karna
waktu itu kelas kita yang terbaik, pak Jo pilih kelas kita jadi panitianya.
Kamu mau ikut?...”
“…Mau
kok Vin, janjian dimana?…”
“…Di
tempat biasa Ik, masih inget kan? Jam 4 sore yah? Sekalian liat matahari
tenggelam, kan disana bagus suasanannya…”
“…Oke,
kapan?...”
“…Besok,
jangan lupa datang…”
“…Iya
sipiit…” jawabku terkekeh
“…Wo
dasar tembem…”
“…Dasar
sipiit, udah dulu yah aku lagi les nih…”
“…Bye…”
Kututup BlackBerry ku, Alvin sahabatku saat SMP. Begitu
kangennya dengan masa-masa itu. Sekarang aku sudah beranjak kelas 3 SMA,
otomatis sebentar lagi akan tamat… Cakka… Apa aku bisa ketemu kamu nanti
>>>
Aku berjalan sambil membawa 2 bungkus kresek yang isinya
kembang api dan makanan, tempat tongkronganku terletak dibelakang sekolahku
dulu, SMP negri 2. Sambil melihat-lihat keadaan sekolah jadi ingat saat aku
sekolah disini. Aah, sudah begitu lama yah. aku terkekeh geli saat menginggat
kejadian-kejadian begitu.
Setelah berapa jam berjalan akhirnya aku sampai disana, yap
masih jam3 lewat. Kecepataan? Memang kusengaja supaya bisa melihat keadaan
disana. Yah aku rasa disana ada juga yang datang walaupun tidak tahu siapa
“Ah,
itu dia datang” ucap Shilla saat aku datang
“Aaaaaa
OIK!” seru Sivia
“Hei”
kata Gabriel
“Lama
tak jumpa!” ucapku menghampiri semuanya
“Makasih
sudah mau datang Ik. Kudengar kamu lagi sibuk banget yah” Tanya Sivia
“Iya,
tapi besok aku libur les kok, jadi no problem” jawabku tersenyum sambil memberi
kresek dengan Gabriel
“Kamu
mau masuk Universitas Indonesia yah? Asik dong” kata Gabriel
“Iya,
Oik pintar sih” jawab Shilla. aku hanya tersenyum mendengarkannya
“Umm,
si Ca…” ucapanku terpotong saat ada yang menepuk bahuku
“Hey
Oik?” Tanya Alvin
“Ah,
Alvin” jawabku kaget. tapi setelah itu Alvin menggangkat telponnya
“Iya
bawel, dia ada disini. Gue tunggu lo Kka” kata Alvin samar-samar
Deg, Cakka?
=FLASHBACK:On=
Aku menatap seseorang
yang ada diatas gedung dengan khawatir
“Apa?” Tanya seseorang
“Kamu dipanggil guru Kka”
“Kalau mereka yang ada urusan,
kenapa kamu yang disuruh kesini?”
“Yeh, mana aku tahu lah. Kamu
berantem lagi yah?”
“Bodo, kenapa sih setiap hari
kamu menegurku?” tanyanya saat menuruni tangga
“Aku juga gak mau! Tapi ini
tugas ku sebagai ketua kelas!” seru ku kasar saat membalikkan badan dan mulai
menuruni anak tangga dan menuju kelas.
Dia adalah Cakka
Kawekas Nuraga, rambutnya segaja dipirangkan, dan dia adalah anak pembuat
masalah dikelas
“Baru masuk sekolah udah babak
belur” batinku saat melihat Cakka melewati koridor
“Mukamu kenapa?” Tanya Gabriel
ketawa
“Biasa” jawabnya dengan
cenggiran khasnya
Tapi… Banyak teman
yang menunggunya, sebetulnya aku iri padanya. Satu-satunya kesematanku
berhubungan dengannya adalah saat aku menengurnya
“Eh si Cakka keterima di SMA
Patra Mandiri” kata Ify
“Masa sih?”
“Cakkaaa, tulis pesan kamu dong
dibuku kelulusan akuu” ucap Shilla merenggek
“Ah aku juga” sambung Ify
Aku hanya melihatnya
dari jauh saat aku berjalan kearah kursiku, Cakka memanggilku
“Kamu mau bukumu ditulis juga?”
tanyanya
“Eh? Gak usah!”tolak kulanggsung
“Kamu sama sekali gak manis deh.
Inikan kelulusan” jawabnya dengan muka bete. Aku pun memberikan buku kelulusan
padanya dengan muka berteguk 4
“Kau masuk SMA Global Mandiri
yah?” tanyanya yang duduk diatas meja sambil melihat isi buku kelulusa
“Iya” ucapku kesal. “Tapi kamu
masuk SMA Patra Mandiri. Dunia memang tidak adil!” seru ku ketus, padahal aku
tahu dia belajar mati-matian untuk ujian masuk, batinku
“Ah. tulis bukuku juga dong”
katanya memberi buku kelulusannya
“Eh?” jawabku bengong, disaat
terakhir ini aku ingin jujur…, batiku. Aku mulai menulis bukunya. Setelah itu
aku memberinya kembali. Ia membaca tulisanku
“Tetap sehat yah. jadilah dewasa dimasa SMA :) – Oik Cahya Ramadlani”
“Bawel ah” guman Cakka, tukan, batinku
“Nih” katanya memberikan buku
ku, saat aku mau membacanya ia pun pergi menuju pintu “Sudah yah”
Mataku terbelakak
membaca tulisan itu…
“Cakka” ucapku menatap punggung
cakka
“Aku cukup menyukaimu – Cakka Kawekas Nuraga”
=FLASHBACK:Off=
Tak kusangka dia meninggalkan pesan itu…
“Cakka
sudah menuju kesini” kata Alvin, jantungku berdegup kencang
“Oh ya?
Aku sempat ketemu sama dia didepan perpustakaan Jakarta.. dia rajin belajar yah
sekarang” Tanya Sivia
“Iya,
aku sekelas dengannya” jawab Alvin
“Siapa
yang percaya, si pirang tukang berantem itu malah masuk SMA favorite” sambung
Gabriel
Aduh, kok aku gugup yah? apa dia tidak pernah berubah? Aku
menepuk pipiku
“Itu
Cakka kan?”
“Cakka
sini!”
“Hei”
Benar-benar datang! Aku… Tidak bisa bergeraak. Pelan-pelan
aku mengembalikkan kepalaku. Deg! Mataku dan matanya bertatap sebentar… eh eh
eh, rambutnya hitam… beda dengan Cakka yang ada diingatankuu.. Tapi dia memang
Cakka… Aku mamandang Cakka, kulihat Cakka sedang berbicara dengan Sivia setelah
itu ia jongkok sambil memengan kembang api
“Ada
yang punya korek?” tanyanya
“Nih” kata
Gabriel
“Sankyu”
Sepertinya ada yang beda? Mungkin rambutnya jadi hitam… Dan
dia jadi makin tinggi… Cakka jadi sekeren ini?
“Lama
tak jumpa” sapa Cakka
“Eh
iya” jawabku gugup
“Kau…
potong rambut?” tanyanya mematikan kembang api
“I…
Iya, cakka… rambutmu jadi hitam” kataku
“Iya”
“Co…
Cocok juga, Kok…” ucapanku terputus
“Hei!
Kita ke SMP yuk!” seru Shilla menggandeng tangan Cakka
“Kka,
jalan kaki aja dari sini” sambung Shilla
“Iya”
“Oh
iya, Ik kamu dipanggil Alvin tuh” ucap Sivia
“Eh,
iya” jawabku
“Hei,
waktu SMP kalian berdua sering digosipin loh. Sebetulnya ada apa sih?” Tanya
Shilla
“Hah?”
“Sebetulnya
kalian jadian yah? kalian serasi loh”
“Apa
katamu” ucapku memandang Badan Shilla dari belakang
“Ayo,
hari ini kita nostalgia!” seru Shilla memegang pundak Cakka
Aku menatap punggung itu dengan kesal, perasaanku campur
aduk, Cakka, Shill, Sivia, Gabriel berjalan didepan. Aku dengan Alvin
dibelakang, aku hanya diam saja disana
suara Shilla paling besar dan heboh. Aku melihat punggung mereka dengan
seksama, tak ada yang beda disbanding waktu SMP , terasa begitu jauh…
“Kamu
kenapa Ik?” Tanya Alvin
“Kau
selalu melihat dari jauh” sambung Alvin. “Sesekali lihatlah dari dekat untuk
memperluas wawasanu”
“Eh?”
kataku tak mengerti, apa maksudnya? Batinku
“Cakka
berubah yah? dibanding waktu SMP, dia jauh lebih tekun. Ini semua berkat Uci…
Dia berubah total” ucap Alvin. “Kadang-kadang masih berantem, tapi kita kan
bersama dia sejak kelas satu. Lagi pula masa SMA lebih menyenangkan dibanding
SMP”
Dia berubah jadi orang seperti itu yah…
“Kangen
juga” ucap Cakka
“Mau
nyebur kekolam?” Tanya Gabriel
“Asik
juga nih”
Bertambah lagi si Cakka yang tak kukenal. Hey.. Jangan
pergii. Jangan pergii! Aku langsung memegang baju Cakka daribelakang, ia langsung
menoleh dan menatapku
“Hen..
HENTIKAN! Nanti kau bikin ribut dan menyusahkan orang lain saja! Ternyata kau
tak bisa jadi dewasa yah!” bentakku
“Kau
bawel” jawab Cakka dingin
“Iya!
Biarkan saja” sambung Shilla
“Jangan
dimarahi lagi dong” ucap Sivia
“Hey!
Apa yang kalian lakukan disini? Pegi sana!”
“KABUR!”
“Eh,
tungguu”
“Tunggu
duluuu”
“Maaaaaaaf
Pak!”
“Ayo
Ik” kata Alvin menarik tanganku dan mengajak belari sampai ketepat tongkrongan
kami tadi
“Ya
ampun!”
“Payah
banget!”
“Gara-gara
lo Kka”
“Kok
aku?”
“Kau Bawel” deg, aku mengatur nafas, lalu menepuk pipiku
sendiri. Kata-katanya tadi seolah-oleh jarum bagiku…
“Eh
cola nya masih banyak nih”
“Yuk
minum”
Kenapa aku bersikap begitu didepan Cakka? Itu sebabnya aku
selalu dibilang bawel. Aku… Tak tahan pada diriku sendiri. Aku pun langsung
menggambil cola dan meminumnya. Aku tahu yang lain melihatku
“Kamu
gak papa ik?”
“Gaaaaak”
“Bagus!
Minum lagi saja!”
“Eh?
Sudah kosong?” tanyaku agak pusing setelah minum itu telah habis
“Piaaaa,
colanyaa habisss” renggekku. Sivia langsung mengusap kepalaku
“Buka
yang baru saja yah?”
“Ayo
bukaaa”
“Hei,
jangan minum lagi Oik! Istirahatlah sebentar” ajak Alvin. Aku hanya bisa ikut
saja, maklum kepalaku sudah pusing. Akhirnya alvin membawaku tak jauh dari yang
lainnya
“Mungkin
kamu tak sadar” katanya
“Apanya?”
“Tapi
sekali melihatmu aku langsung tahu” jawab Alvin melihatku dengan mata yang sayu
“Berhentilah
memaksa dirimu. Oke?” tanyanya menghelus kepalaku
“Iya”
ucapku diam
Tangan yang lembut. Ya, mungkin lebih baik… Begini…
Seseorang langsung memelukku. Siapa?
“Eh?”
ucap Alvin bengong
“Eh?”
ucapku saat orang itu menarik tanganku
“Kau
kebanyakan minum! Kenapa bengong sih?!” serunya. Aku menatap matanya… cakka?
“Eh?
Ah? uh” jawabku sambil menutup mulut. Aduh, aku jadi mual…
Cakka langsung menggedongku ketempat yang lebih lapang
“Kkaa…
tungguuuu” jeritku pelan
“Ayo
muntah! Kalo muntah nanti kau merasa lebih baik!” serunya menepuk punggungku
“Enggakk.
Gak bisa, aku takut. Jijik….” Jawabku menggigil takut
“Bawel
banget sih! Susah banget, Cuma bilang ‘Hoek’ aja susah!” katanya memaksa
“Jangan
bilang ‘Hoek’. Uh”
Akhirnya aku pun muntah juga. Selang berapa menit Cakka
masih menungguku disini sambil memberi sebuah botol air putih. Aku hanya
melirik dia saja
“Maaf
Kka” ucapku buka mulut
“Kau
bego! Kenapa ceroboh sekali sh? Biasanya kau gak begini!” kata Cakka marah
Apa yang aku lakukan? Aku tidak suka menyusahkan orang.
Tapi, kenapa aku tidak bisa bersikap jujur menuruti perasaan? Padahal aku ingin
akrab dengan mereka. Air mataku jatuh
mengalir menbasahi pipiku. Seakan-akan terlihat masa saat aku SMP. Padahal…
Padahal…. Aku suka Cakka…
Cakka langsung memelukku. Ya saat ini memang aku tidak
melihat wajahnya. Didalam pelukkannya air mataku tetap mengalir
“Kau
beda dari biasanya! Lebih… manis! Biasanya kau sangat tegar!” sahutnya melepas
pelukkan itu. Aku menatapnya masih mengeluarkan air mata
“Jangan
perlihatkan sikap seperti ini… Didepan siapapun!” serunya memegang pundakku
“Tapi…”
ucapku menatap Cakka. “Aku ingin berada disisimu cakka. Sebetulnya aku ingin
tersenyum disamping kamu Kka” sambungku, kulihat Cakka menatapku sangat dalam
“Maaf.
Aku nekad berkata seperti ini. Padahal aku tahu kamu sudah punya pacar” kataku
menunduk
“Pacar?”
Tanya Cakka kaget
“Kau
memang punya pacarkan? Alvin bilang kamu berubah karena seseorang bernama Uci”
ucapku sedih
“Uci
itu… Wali kelasku” jawab Cakka dengan muka datar
“Ah?”
aku bengong. Raut muka cakka yang datar itu berubah menjadi orang yang ketawa
terbahak-bahak
“Ya
ampun! kau salah paham” kata Cakka ketawa
“Tapi”
aku hanya bisa menahan malu “Awas kau Alvin” batinku marah
“Aku
memang ingin berubah, tapi bukan karena wali kelas” katanya berdiri. Aku hanya
memasang muka heran dan ikut berdiri
“Karena
orang yang kurindukan tidak ada di SMA” sambungnya melihat kearah langit
“Orang
yang kau rindukan?” tanyaku
“Awalnya
tiap kali bertemu aku, dia selalu bicara. Kukira dia orangnya bawel…..”
=FLASHBACK:On=
“Cakka kamu ini bisa tidak, jangan
berantem terus?” Tanya pak Duta. Aku hanya diam mendengarkan pak Duta bicara
“Jangan cat rambutmu jadi pirang
begitu!”
“Ini catatannya pak” sahut Alvin
meletakkan buku catatan di meja pak Duta
“Hei, kalian juga harus menegur
dia!” suruh pak Duta. Aku hanya melihat mereka bedua dengan tatapan
‘gak-usah-bantu-gue’
“Ah” jawab Alvin yang seperti
mengerti tatapan aku
“Tapi pak praktis juga kok,
kalau rambutnya itu pirang. Kan itu bisa membuatku tahu dimana dia berada” ucap
Oik yang daritadi membetulkan letak buku-buku yang ia bawa dan Alvin. Ia
berbicara sambil tersenyum. Deg, kenapa hatiku berdetak cepat?
“Kamu malah membelanya Oik!”
tegur Pak Duta
Kalau dicat pirang dia
langsung masuk kedalam ruang
penglihatanku
“Cakkaaaaaaaaaa! Ayo tugas
piket” teriak Oik saat mencariku. Aku pun bersembunyi dibelakang pintu lab. Tak
terdengar lagi suara Oik, bearti dia tidak ada didekat sini lagi dong. Aku
mengehela nafas lega
“Kau disini yah!” kejutnya dari
belakang. Aku terkejut dan langsung menoleh kearahnya
“Sudah kubilang jangan bolos
piket!” seru Oik. Aku memasang muka sebal. Tapi berapa detik kemudian muak
sebalku tergantikan dengan senyuman manisku sampai Oik bermuka heran
“Apa? kenapa kamu tersenyum?”
Tanya Oik
=FLASHBACK:Off=
“Aku
kabur karena ingin menarikmu. Tiba-tiba saja, semua terasa sangat menyenangkan.
Tiap hari aku pergi kesekolah agar bisa bertemu denganmu. Memang konyol dan
kekanakan… tapi itulah cinta pertamaku”
kata Cakka masih memandang langit yang berbintang. Aku hanya bisa
menangis mendengar kata-katanya itu
“Sampai
sekarang aku masih suka kamu Cakka” jawabku tersenyum melihat dia
“Iya.
Aku juga masih suka kamu Oik” katanya senyum memegang tanganku
Sore hari yang panjang telat usai dan berganti malam yang
penuh dengan bintang. Mulai sekarang, kami berdua memulai hari yang baru…
>>>
-Cakka POV-
Aku berjalan dibawah rindang pohon. Daun warna kuning
kembali berguguran. Melihat daun itu aku teringat saat kelas 3 SMP
=FLASHBACK:On=
“Hei kalian! Bukannya piket malah
main-main!” seru Oik melihat aku dan Gabriel yang sedang menghamburkan daun
yang sudah dikumpulkam itu
“Payah! Kayak anak kecil aja
kalian!” ucap Oik menghentikan kami berdua. Gabriel langsung melarikan diri.
Aku? Aku berada disamping oik dengan muka kesal
“Dasar cerewet” gumanku
“Apa katamu?” ucap Oik yang
sudah mengempalkan tangannya
“Eh, ada yang nyangkut” kata Oik
menggambil daun kuning itu dari rambutku
“Ah, warnanya sama dengan
rambutmu. Tuh” sambungnya. Lalu ia mendekatkan daun kuning itu kerambutku
=FLASHBACK:Off=
“Cakka”
teriak Oik, aku menoleh kearah Oik
“Maaf
ya. Sudah lama menunggu?” Tanya Oik
“Ah
enggak juga kok” jawabku yang melihat muka Oik yang lagi senyum itu
“Pemandangannya
indah yah. taman sekolah kita dulu seperti ini juga kan?” tanyanya. Aku
langsung memandangnya dengan senyum merekah, dia ingat! Dia ingat!
“Hem?
Kenapa kamu senang?” Tanya Oik dengan muka polosnya
“Gak
papa” jawabku dengan muka kesal. Dia gak ingat
“Hah?”
ucapnya heran “Eh tunggu dulu Kka. Ada daun kuning nih yang nyangkut” katanya
menggambil daun itu diatas rambutku
Oik melihatkan daun kuning itu, aku langsung memasang senyum
bahagia kearahnya lalu menggandeng tangannya
“Lho?
Kok langsung menggandeng tanganku?” tanyanya heran. Aku hanya tersenyum melihat
muka Oik yang heran
“Rahasia”
jawabku nakal dengan ekpresi senang, oik yang melihatku begitu langsung
tersenyum juga
>>>>>>>>>>>>
THE END!